\ Juli 2012 | Catatan Rizka

Lebih Dekat dengan Rokok Kretek Kudus



Sedikit Tentang Rokok


Merokok adalah salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Seiring perkembangan zaman, rokok semakin dilengkapi dengan berbagai macam bahan yang mungkin lebih mementingkan kenikmatan dan mengesampingkan fungsi rokok itu sendiri.

Pada zaman dahulu, rokok adalah salah satu obat tradisional yang digunakan oleh masyarakat di pedesaan. Rokok semakin populer, dan beralih fungsi hingga menjadi seperti yang sering kita jumpai saat ini. Orang-orang pedesaan, memanfaatkan rokok sebagai obat asma. Rokok semakin berkembang pesat, khususnya di kota Kudus, Jawa Tengah. Oleh karenanya, kudus dikenal dengan julukan Kota Kretek.

Tahukah kalian tentang asal usul kata “kretek” itu? Kata kretek sendiri berasal dari bunyi yang dihasilkan oleh suara hisapan rokok. Konon. Rokok ditemukan oleh penduduk desa di kota Kudus yang bernama Jamhari sebagai obat hisap yang terbuat dari cengkeh dan tembakau. Pembungkus rokok berasal dari kulit jagung yang dikeringkan. Karena sangat diminati penduduk, lambat laun rokok semakin dikembangkan dan mungkin fungsi asli rokok sebagai penyembuh mulai hilang.

Kini rokok bukan sebagai obat tradisional lagi, melainkan sebagai salah satu penyebab rusaknya organ tubuh seperti paru-paru dan jantung. Kandungan kimiawi rokok juga ada yang bersifat karsinogen. Bukan hanya bagi perokok, dampak yang ditimbulkan juga berimbas bagi perokok pasif. Asap yang diembuskan para perokok , akan lebih berbahaya bagi perokok pasif, karena kandungan racun akan meningkat dan dapat bertahan beberapa jam lamanya dalam ruangan saat rokok padam.

Itulah sedikit gambaran tentang perkembangan rokok dari fungsi asli rokok hingga berbagai dampak dari rokok.

Sekian, dan terimakasih...

Tulisan ini merupakan tugas dari tempat dimana saya berlatih membuat tulisan untuk pertama kali. Sebelum menulis, saya dan teman-teman telah mengunjungi museum Kretek yang bertempat di Kudus. Jadilah tulisan ini sebagai hasil dari observasi dan wawancara kami. Tulisan ini sedikit saya revisi sebelum diposting..

Cita-Cita


Bismillahirrahmanirrahim.
Pernah suatu saat guruku bertanya, sebenarnya si bukan hanya aku yang ditanyai :D. pertanyaanya adalah,"apa cita-cita kalian ketika besar nanti?". Akupun menjawab, "jadi dokter bu," "wah cita-cita yang bagus"  sahut si ibu guru. Waktu aku kecil dulu, pertanyaan semacam itu sering dilontarkan padaku. Dan jawabanku pun masih tetap, dokter. sekalipun berubah, pasti jawabanku yang setara dengan profesi si dokter, paling tidak “dosen”. benar-benar tinggi ya cita-citaku dulu. hehe
Jika kau tanya, apa alasan aku dulu ingin menjadi dokter mungkin aku tak bisa menjawab. Sepertinya aku hanya terbawa teman-temanku saja. Tapi kau pasti setuju kalau profesi dokter adalah baik dan semua anak pasti menginginkannya. terbukti banyak teman-temanku dulu yang ingin menjadi dokter. Selain itu apa gara-gara dulu aku seringnya denger lagu boneka susan ya, yang ditanya cita-citanya terus ngakunya pengen jadi dokter soalnya bisa nge'njus' alias nyuntik orang.
Lalu apa kabarnya cita-citaku sekarang? Apakah aku masih terobsesi menjadi seorang dokter? (dokter lagi). :D
Tapi tahukah kamu, kini ketika aku mulai beranjak dewasa, (sok dewasa ya, pdahal ga da dewasa-dewasanya) aku mulai jarang ditanyai perihal cita-citaku. Kenapa yah, apa itu  pertanyaan hanya khusus untuk anak-anak. Entahlah, tapi kadang terlintas di benakku saat seseorang bertanya padaku kini tentang masa depanku, aku takkan berani menjawab dengan jawaban selantang ketika aku kecil dulu. Paling-paling aku hanya akan tersenyum, karena belum jelas jluntrungnya aku. Atau aku akan menjawab “wallahu’alam kalo diterusin ya bisshawab”. hehehe
Kenapa seperti itu, karena sepertinya aku ga akan menjadi dokter seperti cita-citaku waktu kecil dulu. Sebenarnya ada sih usaha untuk merealisasikan impianku itu. Minimal aku di SMP pernah bergabung di organisasi Palang Merah Remaja (PMR), lumayan lho kiprahku dulu (ceile..). Aku juga menggemari pelajaran biologi, dan di SMA dan ‘kecemplung’ di jurusan yang anggapan orang-orang itu adalah jurusan terbaik dan favorit apalagi kalo bukan IPA. Lumayan ada bakat kan, he sok ke PeDean.
Tapi pemirsa, tiba-tiba kog anganku berubah ketika di IPA aku harus menyukai ‘mereka’; Matematika, Fisika, Kimia yang notabene adalah ‘pegangan’ seorang calon dokter. Aku tak suka ilmu hitung menghitung pemirsa. Susah ya buat bisa ngeraih cita-cita. Sebenarnya masih ada banyak sekali hambatan dan rintangan yang harus dihadapi kedepannya untuk bisa menjadi seorang dokter.
Dan kesimpulannya, cita-cita menjadi seorang dokter hanya indah didengar oleh penanyaku waktu kecil dulu. Maaf ya ga bisa ditepatin, maklumin aja namanya juga anak kecil, sukanya berimajinasi. Tapi setidaknya aku sudah memberikan jawaban yang enak didengar kan Pak, Bu.. hehehe.
Itulah sedikit tentang cita-cita masa kecilku, dan usaha yang telah aku lakukan untuk mewujudkannya. Entah itu karena aku terlanjur malu karena aku telah memproklamirkan bahwasanya aku ingin jadi dokter, atau memang panggilan jiwa. Tapi apa boleh buat, aku tak berdaya, tak sanggup otak ini berpikir terlalu tinggi.
Hikmah yang bisa diambil dari pengalaman ini adalah untuk meraih cita-cita kita itu nggak semudah ketika kita menggembar gemborkannya di hadapan khalayak publik. Jadi butuh persiapan dan usaha yang benar-benar kuat. Selain itu, aku bisa menyimpulkan bahwa sebagian besar angan-angan di waktu kecil itu hanya bohong belaka, bukan merupakan jawaban dari hati. Hehehe (lagi).
Wassalam..

up