an ordinary

Aroma dirimu begitu lekat di ingatanku. Hingga beberapa hari pertemuan itu, tiap kali kuhirup wewangian serupa. Semakin kangen saja aku denganmu. Aku memang sangat sensitif pada bau-bauan. Malahan, mungkin saja yang tadi itu bukan bau kamu.

Beberapa kali pertemuan kita memang selalu ada saja asal usulnya. Yang jelas, akibat dari bersamanya kita menimbulkan bermacam-macam persepsi yang aku cipta untukmu.

Awalnya biasa saja

Hingga pada akhirnya pertemuan ini terasa sangat spesial untuk kita. Karena mungkin rasa antara kau dan aku adalah sama.

Tetapi, bersiaplah karena bisa saja ketika nanti kita dipertemukan lagi akan terasa biasa saja seperti dulu.

Kupikir, tak usahlah aku terlalu..

Terlalu lebay mengangap hari ini indah

Terlalu dramatis menganggap kemarin sepi dan galau

Terlalu mengharapkan kamu yang seharusnya bukan padamu aku berharap

Aku ingin melabeli semua yang telah dan akan terjadi dengan label "BIASA". Dan dengan senyum yang melebar ini, kuyakinkan bahwasanya apa saja yang aku rasa ini tak ada yang berlebihan. Semuanya pas, tak kurang apalagi kebanyakan.

Dengan bingkai sederhana dan biasa ini sebenarnya ada sesuatu yang aku harapkan. Aku hanya ingin hari-hari kita terasa sama. Dan tak pernah ada yang bisa membuatku kecewa karena hari itu terlalu atau kurang sesuatu..

O-R-D-I-N-A-R-Y

♥•° Tangga Hati ♥ :) •°

Aku memang bukan seorang guru. Tapi saat ini sedang menempa pendidikan yang memang dijuruskan untuk menjadi seorang guru. Hingga pada saat itu, aku mulai meniti karirku. 

Perlahan aku mulai menerapkan apa itu menyampaikan ilmu. Meskipun tak seberapa, karena kita tahu "Sampaikan ilmu meski hanya satu ayat". hehe. 

Di suatu tempat, di mana menampung anak-anak untuk belajar. Di situlah aku mulai bergabung. Mulai belajar berinteraksi dengan orang-orang baru. Dan mereka semua secara fisik apalagi karakter berbeda jauh denganku.

Aku paham semua pilihan ada resikonya. Termasuk harus mendapat bullying dari mereka. Okelah, memang itu karaktermu dan harus kuterima. Yang harus aku ingat adalah aku dilarang membalas cacianmu, bahkan membencimu. 

Kita (aku, kamu, dan kalian)

Rasa sedih akan sebuah perpisahan perlahan pergi. Tak mudah memang, tapi begitulah hidup. Bertemu seseorang atau beberapa orang yang kita sendiri tak tahu dari mana datangnya. Bisa saja kubilang, aku tak inginkan mereka hadir dalam hidupku. Tapi mau apa lagi. 

Mulailah aku, kamu dan kalian 

Berada di tempat yang sama, waktu yang sama, dan tentu saja akhirnya cerita kita sama bukan?

Hanya saja kita tak pernah tahu. Kebersamaan ini entah memunculkan apa di benak kita. Atau malah karena perjalanan ini tak pernah diketahui arahnya, tersesatlah kita. Dan karena saking jauhnya lagi, tak kita temukan jalan tuk keluar. Keluar dari ruang ternyaman yang kau dan aku punya. 


  

Yang selalu berbeda di wadah yang sama



   Hmm, tampaknya nafas lega tak selalu bisa aku rasakan. Sebentar-sebentar dia berubah menjadi sesak walau tak sesesak mereka yang nyata menderita sesak nafas. Syukur, sesak itu selalu menemukan obatnya yang memang siapa lagi kalau bukan aku sendiri yang mengikhtiarkan. 

   Zona aman yang sedang berpihak padaku tiba-tiba saja berubah menjadi unsecured. Dan itu terjadi dengan mudahnya. Jika ketentraman hidup didapat dengan usaha yang memang sudah pasti diketahui rumusnya. Kecemasan dan ketidaknyamanan hati justru datang dengan mudahnya. Keduanya dengan pasti dan rutin menghampiri bagai matahari yang tak pernah absen menjenguk bumi. 

   Lihat saja, hari ini aku terpikirkan akan esok. Esok yang biasanya agak bisa kupastikan akan menyenangkan. Sudah kutaruh hati di hari itu. Pasalnya, sedikit keceriaan akan berpihak padaku. Tapi tidak untuk hari esok dan hari yang sama di berikutnya. Allah telah merubah sedikit skenario untukku.

   Sebenarnya bisa kuterka alur cerita besok #ups. Meskipun aku tahu manusia tak kuasa dan tak boleh menentukan apalagi memastikan ceritanya sendiri. Esok tetaplah menjadi misteriku. Entah bagaimana keadaan hatiku esok. 

Berharap

   Ya, tak akan pernah menghentikan rengekanku padaNya. Akan kuminta agar diselipkanNya tawa. Atau paling tidak bisa kuhilangkan yang selain tawa itu.

Yang pasti, aku harus menyiapkan hati… :)


Penantian Keindahan

   Bagai sebuah vas bunga yang masih tersisa dan terjajakan. Dan seseorang memantapkan untuk memiliki vas itu lewat duit 7.500 rupiah. Padahal yang sebenarnya hargaku 10.000. Demi apa aku kau ambil? Entahlah aku hanya pasrah menerima.

   Aku kecewa, karena seharusnya kau mengajak pacarku. Lihatlah, aku jelek tanpanya, aku buruk dan kujamin aku tak lebih dari barang tak berharga jika kau letakkan di sembarang tempat.

   Dan benar saja, kau lupakan pacarku itu. Tahukah kau pembeli? Aku sudah lama menantikan saat-saat berdua bersama pacarku. Menantikan saat yang halal ketika kita berdua telah resmi dibayar dengan rupiah dan pemilik asalku ikhlas menerima. Ah sudahlah, mungkin si jelita cantik yang telah lama aku incar bukanlah jodohku.

   Hey, hendak kau kemanakan aku? Aku tahu, sejak aku hanyalah sebongkah kayu hingga kini aku gagah tegap berdiri menantikan pelengkap hidupku itu adalah sebuah penerimaan. Tetapi diamku ini tetaplah memohon agar suatu saat nanti impianku bersanding dengan jodohku akan terwujud.



   Ternyata kau bawa aku kemari. Kau temukan aku dengan dia yang meski tak secantik pujaanku dulu, namun dia sangat cocok mendampingiku. Kaulah jodoh yang Tuhan kirim  untuk mengisi kekosonganku... :)



Sebelum Berbelanja :)

Hai ladies,
Oiya, sekedar bercerita tentang kesibukan seorang wanita di era 2013an ini. Sebenarnya sih gak jauh beda dengan perempuan masa dulu, hanya saja sekarang kebutuhan kita (baca: wanita) lebih kompleks. Dan produk-produk kewanitaan pun sekarang, ih woow semakin bervariasi. Mulai dari fashion, kosmetik, sampai pasangan.. #eeeh

Alhamdulillah, saya bukan tipe perempuan yang selalu mengikuti setiap perkembangan mode. Malah cuma sekedar tahu dan menjadi good audience aja, hehe. Kalau bicara tren yang lagi happening, pasti gak jauh-jauh sama yang namanya shopping. Lha apalagi kita, kaum hawa yang memang tak terpisahkan dengan aktifitas ini.

Lalu, apakah cara belanja saat ini mengalami perubahan seperti barang yang diperjual belikan? Aku jawab iya. Karena seperti yang kita tahu sekarang ini belanja on-line telah marak terjadi di sekitar kita. Apa-apa lewat internet. Yang belum ada adalah belanja sayur lewat internet, hoho. Jangan ah, nanti kampung saya jadi aneh kalau pagi-pagi sepi tanpa tukang sayur. 

Disaat yang lain telah lihai bertansaksi barang lewat internet, sampai sekarang malah aku belum pernah sekalipun mencoba. Tahu kenapa? gak puas aja sih rasanya, soalnya gak bisa berjumpa langsung dengan barang incaran. Kan kalau tiba-tiba gak cocok barangnya gak bisa dituker, terus kadang juga antara gambar sama aslinya gak sama. Yasudahlah itu kan urusan pribadi masing-masing.

Sampai sekarang sih aku belanjanya masih cara manual di pusat perbelanjaan terdekat. Selain hemat, ada banyak keuntungan yang bisa didapat. Gambar-gambar berikut adalah yang biasanya dilakukan saat belanja di pasar.












Gambar di atas dan di samping ini menunjukkan betapa beragamnya jenis barang yang ditawarkan. Rasanya akan lebih sreg kalau bisa milih satu dari yang begitu banyak itu. Hehe










Preface aja, boleh dong..

Hallo readers!!!

Sambil menghela nafas, dan yeah. I'm back!
Tiba-tiba shock aja waktu liat keadaan rumah yang sekian lama tidak terjamah oleh penghuninya. Belum ada dua bulan sih, tapi kenapa separah ini?

Memang sengaja tak kututup pintu depan, kubiarkan dia terbuka supaya orang-orang tidak sungkan untuk berkunjung. Berkunjung? Ya, berkunjung karena rumah ini memang disediakan bagi siapa saja yang memang membutuhkan keberadaannya.

Alhamdulillah, lumayan bermanfaat kog. Ternyata buku tamu sudah terisi. Walau gak banyak, tapi kehadiran mereka adalah motivasi saya untuk terus merenovasi dan melengkapi tempat ini. sebelumnya, mohon maaf sehubungan keterlambatan saya meng update para pengunjung. Hehehe… ( nah loooh, apaan yaa ini )

Sekedar Preface




↑
up