Lelaki Hatiku

Sesosok lelaki, yang aku lihat itu. Memang, dia punya wajah yang rupawan. Perawakannya, juga tak buruk dan membuatku mengaguminya. Tapi itu wajar, dan aku tahu rasa itu hanya sebatas kagum. Paling, beberapa jam saja bertahan dan pasti aku hanya akan melihatnya biasa saja nantinya.

Kita hanya terpisahkan beberapa kursi waktu itu. Entah tiga atau empat, tapi aku yang duduk di belakangmu hanya memandang kepala dan sedikit bahumu. Sesekali kau menoleh kebelakang, entah apa yang kau lihat. Tapi saat itu aku berharap kau selalu menengok ke belakang. Melihatku yang selalu memperhatikanmu.

"Silahkan, mbak duluan" itu yang aku dengar di antrean toilet SPBU. Kau mempersilahkan aku dan adikku memakai toilet dulu, padahal kau sudah lebih dulu mengantre. Aku lupa suaramu, yang aku ingat lelaki sepertimu jarang sekali ada di jaman sekarang.
Hai, mas. Nilaimu bertambah di mataku.

Di area wisata, aku sering melihatmu berjalan sendiri. Dengan kamera handphone, kau bidik objek-objek yang kau suka. Dan akupun begitu. Tapi tahukah, mata ini juga tak bosan membidik tingkahmu, mas. Kau yang selalu sendiri, ingin sekali aku menemanimu berjalan dan ngobrol entah itu tentang apa.

Tapi kita tak pernah kenalan..

•• Ruang Aku ••

Jikalau nanti sudah kau miliki sebuah rumah. Dan rumah itu sudah lengkap dengan berbagai fasilitas beserta perabotan-perabotannya. Kau pun bangga memilikinya. Meskipun terkadang masih saja kau banding-bandingkan dengan yang lain.
Tapi itulah rumahmu. Yang harus kau rawat dan tempati bersama keluargamu tersayang.

Rumah idamanmu itu, dengan segala detail yang ada. Kau pun menatanya sedemikian rupa, hingga kau merasa nyaman di dalamnya. Dan saat titik jenuh mulai berada di puncak, kau pun merombaknya.

Sebenarnya inilah yang harus terpikirkan, dan menjadi inti dari tulisan ini.
Simaklah baik-baik.. *ehem

The miracle of twenty...

Aku lupa, ternyata aku sudah di sini. Lihat saja dan rasakan semuanya memang hampir sempurna. Sempurna untuk ukuran aku di angka dua satu yang sebentar lagi juga akan bertambah.

Angka dua satu bagiku sangat sakti. Angka itu selalu kuingat, meskipun aku yakin tiap orang yang baru melihatku jarang sekali menganggap aku dua satu.

Hey, aku harus sadar. Dua satu bukanlah angka yang sedikit. Lumayan, dengan itu aku selalu bisa membesarkan hatiku. Contohnya saja kemarin, ketika kekuatan superku mulai digerogoti oleh oknum tak bertanggung jawab.  Sekuat-kuatnya aku, pasti akan tumbang juga.

Dan benar saja.

an ordinary

Aroma dirimu begitu lekat di ingatanku. Hingga beberapa hari pertemuan itu, tiap kali kuhirup wewangian serupa. Semakin kangen saja aku denganmu. Aku memang sangat sensitif pada bau-bauan. Malahan, mungkin saja yang tadi itu bukan bau kamu.

Beberapa kali pertemuan kita memang selalu ada saja asal usulnya. Yang jelas, akibat dari bersamanya kita menimbulkan bermacam-macam persepsi yang aku cipta untukmu.

Awalnya biasa saja

Hingga pada akhirnya pertemuan ini terasa sangat spesial untuk kita. Karena mungkin rasa antara kau dan aku adalah sama.

Tetapi, bersiaplah karena bisa saja ketika nanti kita dipertemukan lagi akan terasa biasa saja seperti dulu.

Kupikir, tak usahlah aku terlalu..

Terlalu lebay mengangap hari ini indah

Terlalu dramatis menganggap kemarin sepi dan galau

Terlalu mengharapkan kamu yang seharusnya bukan padamu aku berharap

Aku ingin melabeli semua yang telah dan akan terjadi dengan label "BIASA". Dan dengan senyum yang melebar ini, kuyakinkan bahwasanya apa saja yang aku rasa ini tak ada yang berlebihan. Semuanya pas, tak kurang apalagi kebanyakan.

Dengan bingkai sederhana dan biasa ini sebenarnya ada sesuatu yang aku harapkan. Aku hanya ingin hari-hari kita terasa sama. Dan tak pernah ada yang bisa membuatku kecewa karena hari itu terlalu atau kurang sesuatu..

O-R-D-I-N-A-R-Y

♥•° Tangga Hati ♥ :) •°

Aku memang bukan seorang guru. Tapi saat ini sedang menempa pendidikan yang memang dijuruskan untuk menjadi seorang guru. Hingga pada saat itu, aku mulai meniti karirku. 

Perlahan aku mulai menerapkan apa itu menyampaikan ilmu. Meskipun tak seberapa, karena kita tahu "Sampaikan ilmu meski hanya satu ayat". hehe. 

Di suatu tempat, di mana menampung anak-anak untuk belajar. Di situlah aku mulai bergabung. Mulai belajar berinteraksi dengan orang-orang baru. Dan mereka semua secara fisik apalagi karakter berbeda jauh denganku.

Aku paham semua pilihan ada resikonya. Termasuk harus mendapat bullying dari mereka. Okelah, memang itu karaktermu dan harus kuterima. Yang harus aku ingat adalah aku dilarang membalas cacianmu, bahkan membencimu. 

Kita (aku, kamu, dan kalian)

Rasa sedih akan sebuah perpisahan perlahan pergi. Tak mudah memang, tapi begitulah hidup. Bertemu seseorang atau beberapa orang yang kita sendiri tak tahu dari mana datangnya. Bisa saja kubilang, aku tak inginkan mereka hadir dalam hidupku. Tapi mau apa lagi. 

Mulailah aku, kamu dan kalian 

Berada di tempat yang sama, waktu yang sama, dan tentu saja akhirnya cerita kita sama bukan?

Hanya saja kita tak pernah tahu. Kebersamaan ini entah memunculkan apa di benak kita. Atau malah karena perjalanan ini tak pernah diketahui arahnya, tersesatlah kita. Dan karena saking jauhnya lagi, tak kita temukan jalan tuk keluar. Keluar dari ruang ternyaman yang kau dan aku punya. 


  

Yang selalu berbeda di wadah yang sama



   Hmm, tampaknya nafas lega tak selalu bisa aku rasakan. Sebentar-sebentar dia berubah menjadi sesak walau tak sesesak mereka yang nyata menderita sesak nafas. Syukur, sesak itu selalu menemukan obatnya yang memang siapa lagi kalau bukan aku sendiri yang mengikhtiarkan. 

   Zona aman yang sedang berpihak padaku tiba-tiba saja berubah menjadi unsecured. Dan itu terjadi dengan mudahnya. Jika ketentraman hidup didapat dengan usaha yang memang sudah pasti diketahui rumusnya. Kecemasan dan ketidaknyamanan hati justru datang dengan mudahnya. Keduanya dengan pasti dan rutin menghampiri bagai matahari yang tak pernah absen menjenguk bumi. 

   Lihat saja, hari ini aku terpikirkan akan esok. Esok yang biasanya agak bisa kupastikan akan menyenangkan. Sudah kutaruh hati di hari itu. Pasalnya, sedikit keceriaan akan berpihak padaku. Tapi tidak untuk hari esok dan hari yang sama di berikutnya. Allah telah merubah sedikit skenario untukku.

   Sebenarnya bisa kuterka alur cerita besok #ups. Meskipun aku tahu manusia tak kuasa dan tak boleh menentukan apalagi memastikan ceritanya sendiri. Esok tetaplah menjadi misteriku. Entah bagaimana keadaan hatiku esok. 

Berharap

   Ya, tak akan pernah menghentikan rengekanku padaNya. Akan kuminta agar diselipkanNya tawa. Atau paling tidak bisa kuhilangkan yang selain tawa itu.

Yang pasti, aku harus menyiapkan hati… :)


↑
up