'say no to mouse'



Sedang teringat perkataan ibu beberapa hari yang lalu. Kalo ga salah begini ni “ Gusti Allah iku nyiptakke kewan macem-macem bentuk lan rupane. Kabeh iku mesti ana gunane” (Tuhan menciptakan berbagai jenis hewan dengan bentuk dan rupanya. Semua itu pasti ada gunanya). Ya begitulah katanya setelah melihat tayangan di TV. Hmm, memang sih, tapi aku masih sedikit menyangkal.

Seakan mendapat jawaban, dan pelurusan dari pernyataan itu. Melalui kejadian sepele, tapi nggak juga sih. Seperti halnya ulangan umum, tahu gak? gimana cara dapetin jawaban dari ulangan sekolah. Belajar kan pasti? Dan aktifitas belajar bagiku waktu aku masih sekolah dulu, dan sampe sekarangpun  bukanlah hal yang gampang. Pasti ada aja godaannya. Hehe, kyaknya emang dasar males aja ini.

Terus apa hubungannya sama perkataan ibu hayo?? Nah, jadi begini nih. Tadi itu aku habis melakukan hal berat dan penuh kerja keras (bagiku sih). Hmm, aku terkejut saat memergoki sekawanan bulet-bulet eh hampir lonjong sih yang bertaburan di dalam rak yang aku tempati tas. Wuss, langsung aja aroma khas sisa ekskresi terhembus dan menyusup masuk ke lubang pernafasanku (huuueks).

Haha, kerjaanku bakal nambah nih rupanya. Haduh, kurang ajar sekali tikus ini buang kotoran di sembarang tempat. Gakpapa lah kalo diguyur ato paling gak ditutup pake pasir (heee, stress). Yaudah dengan berberat hati aku ngebersihin barang imut-imut itu. Rasanya pengen tak jewer dan tak banting sampai mati tuh tikus.

Oh jadi sekarang aku tahu, kenapa tas batikku kemarin baunya aneh banget. Kena pipis ato ee’nya mungkin. #pfftt..  Terus juga, tisuku ikut-ikutan terkontaminasi bau aneh itu. Bayangin deh, kalo temen aku yang minta, pasti malu banget. Mana ada tisu ‘no perfume yes odor’ . Hah, yaudah lah, mari lanjuut.

Seakan mendapat jawaban dari pernyataan ibu, makhluk jelek tengil, hitam dan bau itu juga bermanfaat ya. Setelah kupikir-pikir ternyata tikus-tikus itu gak bakal ee’ di rak tas kalo aku rajin ngebersihinnya. Tapi ya berhubung itu jarang terjamah, apa boleh buat, jadi deh toilet umum. Hedeeh, secara gak langsung itu si tikus ngajak aku untuk selalu menjaga kebersihan. OK, kuus terimakasih udah ingetin aku. Misi kamu berhasil kali ini. Tapi sayang tetep aja aku gak suka sama kamu, hiii..  

Nggak lucu yaa...


   Malam terakhir di bulan libur semester. Terus? Gak papa sih Cuma pertanda aja biar nanti ketika aku (sempet) baca lagi jadi inget. Ooh ini kutulis pas mau masuk kuliah. lho aku sudah hampir dua bulan liburan ternyata, dan besok jumpa kawan-kawan lagi deh. Asiiikk,,, Baaaa sebenernya mau cerita apaan siih??? ('o') 

   Seharusnya sekarang aku sudah keenakan di atas kasur, mendiamkan raga dan menunggu bunga-bunga tidur yang entah ceritanya apa. Yang pasti aku tak mau tahu dan membahasnya ketika aku bangun tidur nanti. Ini bukan tentang mimpi, tapi masa depan.. #nglindur ngantuk..

   Oiya, tumben gak dingin ni malem. Tahu kenapa? Soalnya emang lagi gak hujan, dan ditambah lagi aku belum ….tiiiiiit…. (sensor). Wkwkwkw malu-maluin. Eh tapi keinget tadi pas lagi kumpul-kumpul kata budhe sama ibuk ni hujannya emang udah agak berkurang intensitasnya, tau kenapa? Mereka bilang si cap go mehnya udah selesai. Ah apaan itu ya? Setahuku si cap go meh itu sebangsa lontong opor ditaburi bubuk kedelai. (ˆڡˆ)  (btw, itu tulisan dan lain-lainnya bener kagak ya? Mohon ditindaklanjuti)

   Kenapa saya tidak segera tidur? Dikarenakan di dalam kamar sekarang kondisinya lagi dingin banget. Bukan kipas angin, apalagi AC (air conditioner) penyebabnya. Tapi tahu kenapa? Hehe, dikarenakan air hujan yang begitu solid kerja timnya. Sampai-sampai kaya om jin aja yang bisa nembus tembok tebel kamar ibuk. (_)‎​‎​  

   It’s ok ya, kalo si air gak pake ikut-ikutan mapan di kasur. Eh masih aja aku dibikin was-was sama air terjun yang emang sih gak banyak jumlahnya tiba-tiba ngagetin orang dengan pembawaannya yang sok cool. (tapi emang dingin si luu). Hey aku kebocoran niih, masak acara sleeping beauty harus disandingi sama seonggok kain perca (baca: gombal) pemirsa. HELLO…

   Ah sudahlah, ini semua tidak lucu tapi menyiksa. Pak Min*, datanglah. Kau adalah pahlawan tatkala rumah ini tak lagi diterjang air yang tak pernah diharapkan kedatangannya. Maaf ya air, tapi kali ini kalian benar-benar membuat kami sedih dan kecewa.

(*Pak Min adalah tukang hebat yang biasanya benerin rumah kalo lagi ada masalah.)

Jangan (takut) memberi




   Memberi dan diberi adalah suatu kepastian yang terjadi dalam hidup. Sebagai manusia biasa, yang tak bisa hidup tanpa orang lain atau dengan kata lain makhluk sosial transaksi ini sering sekali terjadi. Jika tidak diberi maka kita memberi. Ya, tak mungkin kita akan selalu memberi dan tak pernah menerima apapun dari orang lain.

   Tetapi dalam kenyataanya orang yang bermateri lebih banyak akan selalu berpeluang memberi. Karena memang hidup ini saling melengkapi. Bayangkan jika semua orang memberi, maka siapa yang akan menerima pemberian itu? Hehehe (ngarang tapi masuk akal)

   Terkadang meskipun kita merasa bukanlah orang yang pantas untuk memberi sesuatu, tetapi hasrat untuk menyenangkan seseorang itu ada terus bagaimana? Nah ini adalah beberapa pemikiran bodoh yang muncul ketika kita hendak memeberi sesuatu pada seseorang yang sebenarnya dia bisa kog beli sendiri .. ( kesannya kog merendah.. :I  )

# Kira-kira dia bakal suka gak ya..
# Ah, dia kan udah punya banyak yang kaya gini
# Ini kog ga sebanding sama brand yang dia punya
# Paling-paling juga gak dipake
# Duh, kalo dibuang sayang kan uang dan tenaga yang udah dikeluarin
# (Apalagi kalo sampe bawa-bawa orang lain,) Paling ntar kakaknya (atau siapa) juga bisa beliin.

   Nah lo, kalo udah kaya gini pasti niat baik kita akan mandeg. Setelah mengalami dua puluh tahun proses hidup, sepertinya saya telah mendapatkan sebuah ilmu memberi. Tentu saja jika anda mengalami hal-hal tersebut diatas.

   Gak ada salahnya berpikir dulu sebelum memberi, tetapi jangan sampai kebeblasan. Pikirkan dulu apakah pemberian kita itu layak diberikan. Lalu setelah itu sebaiknya lupakan poin-poin diatas, karena itu hanya akan menghambat pahala. Langsung saja, urusan dia mau berkomentar apa-apa that is what’s next and not your field.  Yang terpenting adalah niat baik kita menyenangkan orang lain. So, tunggu apa lagi?

Let’s spread the happiness guys!” (っ ̄³ ̄)っ ~♡



You are here for me


 Permata Hati yang Tersisa


Seperti biasanya, hari ini Rini berangkat mengajar anak-anak TPQ di surau desa tempat dirinya tinggal. Bersama sepeda jengki berwarna hitam, begitu kencang dia mengayuh.  Jadwal hari minggu adalah ba’dal maghrib dan itu tandanya perjalanan harus berteman gelap. Dipandangannya tampak tikungan gang terakhir yang diingatnya lewat tanaman melati yang merambat di dinding.
Bau semerbak melati telah menyentuh indera penciuman, tak salah lagi dia akan segera sampai. Tak lupa Rini membunyikan bel sepeda sebelum membelokkan sepedanya.

“Kriing-kriing-kriing-kriing”

Bunyi sepeda terdengar cukup keras hingga mengagetkan seorang wanita paruh baya yang berjalan bersama gadis kecil di sisi kirinya. Ibu berkerudung coklat itupun menoleh kearah pemilik bunyi bel sepeda.

“Bu guru, “ ungkapnya lirih.

Rini hanya mendengar, tak langsung berbalik sapa karena memang si Ibu tak menyapa. Maklum, Rini baru beberapa minggu mengajar dan belum begitu akrab  dengan murid-muridnya. Lalu dipinggirkannya gadis kecil murid TPQ Rini itu. Sebagai gadis jawa yang mengerti tata krama tak lantas ia sekedar melewati mereka.

“Monggo bug, saya duluan nggih” sapanya. Dan tak lama dia sampai di langgar tempatnya mengajar mengaji. Lagi-lagi surau masih tampak sepi, dan parahnya lagi pintu masih tertutup rapat.
Masih ada waktu dua puluh menit dan Rini memutuskan untuk duduk di beranda sambil menunggu anak-anak datang.
“Salim sama bu guru,” suara ibu murid Rini yang tadi bertemu di jalan terdengar samar namun jelas maksudnya. Ida adalah murid Rina yang paling rajin dan pintar. Dia selalu datang pertama kali sebelum teman-temannya. Ibu Ida Nampak sangat menyayangi anak perempuannya itu. Terbukti dengan tak pernah sekalipun ibunya absen mengantar mengaji.

Pernah suatu hari Rini mendengar percakapan antara dua Ibu-ibu yang salah satu diantaranya adalah Ibu si Ida.
“Putranipun pinten bu? “ (anaknya berapa?) Tanya ibu dari salah satu murid kepada Ibu Ida.
“Riyen sekawan, kantun kaleh. Lha niki ingkang ragil kaliyan mbake” (dulu empat, tinggal dua. Lha ini yang paling kecil dan kakak perempuannya) sambil menjawab Ibu Ida nampak murung dan sedikit berberat hati bercerita.


That was a Food Vendor


:: Putu Bumbung
 
   In the middle of rain, in the day where I am going to enjoy my rest. Thank you because now You give me the chance AGAIN to gather with them. People who always there beside me whatever I am..

   Allah, it seems You still want this evening is wet. My lovely city is covered by water. Hmm, so cold now but it is OK, if I’m with you… over at 08.00 pm, yeah my mom and I already lie on my bed. But I still want to do something before sleeping, while my mom directly closed her eyes and Zzz….

   When I was playing my computer, suddenly I heard a sound. It mixed with the sound of computer fan, at that time I was thinking that my computer got a serious trouble. It will happen if the computer is used in a long time. It will be hot and produce a sound. OMG, and the sound was getting louder. But wait, I know that sound. It likes sound of food vendor. I was so nervous, what should I do then? But, the sound was so familiar for me.

   The day was still rainy hard and the street was so quiet. Moreover the melody of frog ‘orchestra’ made this night signed that nobody wants to go outside from their home. Hey, back to the strange sound that bothered me. Actually I was right that it is a food vendor, yeah 'putu bumbung'.  Straightly I wish,

 “Please, protect the vendor and hopefully he can go home by bringing much money for his children”

   In the rainy night day with a storm, luckily if Allah place us in our home that we will be safety. We can gather with our family and enjoy the day. But look outside, some people feel cold and hungry..  

                                                                                                22:15 (midnight)




Like a Butterfly


Seperti Kupu-Kupu


 
Bagai telur yang berubah menjadi ulat

Ulat yang menjelma menjadi sebuah kepompong

Lalu dalam waktu yang cukup lama kepompong bersarang, lahirlah kupu-kupu

Keindahan yang datang bukan secara tiba-tiba, namun berproses dalam tiap fase hidupnya

Mengagumi salah satu makhluk ciptaanMu yang begitu cantik dan selalu menghadirkan keindahan bagi setiap manusia yang memandangnya. Terbang kesana kemari tanpa pernah mengganggu siapapun. Bahkan bunga yang madunya dihisap olehnyapun berterimakasih, karena membantunya hidup lebih baik.

Kupu-kupu cantik, jarang sekali aku menjumpaimu saat ini. Aku tahu untuk menjadi sepertimu itu tak mudah. Bukan magic yang dengan cepat menghadirkanmu ke bumi ini. Tapi tangan Allah lah yang menguatkanmu bertahan.

Bertahan dari sebutir telur yang diletakkan indukmu di pucuk dedaunan, dalam kepasrahan kau bertahan hingga Allah merubahmu menjadi larva. Kaupun tak tahu wujud apa yang akan kau jalani, entah ulat lucu yang bersahabat atau ulat berbulu yang manusia tak suka karena racun yang kau bawa.

Tak lama kaupun harus segera dipaksa untuk berfase dalam suatu keprihatinan. Wujudmu akan berubah menjadi kepompong yang bergelantung di ranting dan dedaunan. Terdiam dalam rejutan benang yang kau buat sendiri, rapuh dan terlihat tenang. Tetapi sebenarnya saat itu kau sedang berproses menuju sosok dirimu yang dinanti-nantikan.

Aku Tetap 'Berjalan'

 “ Maaf, sementara ini kamu tak bisa menitipkan kue-kue di 
  koperasi siswa lagi karena telah ada yang mengisi dengan  
  makanan yang lain. Saya akan menghubungi kamu lagi jika ada
  tempat kosong. Dan jika ada waktu mampirlah untuk mengambil 
  uang penjualan kue kemarin”

     Baru saja kubuka sms dari bu Asih, penjaga koperasi siswa SD Harapan. Nafasku seakan sesak ketika membaca rangkaian kalimat yang singkatnya bermaksud aku tak bisa lagi menitipkan kue buatan ibu. Anita, temanku yang memberitahu sms itu karena memang aku tak punya HP. Alhamdulillah dia berbaik hati untuk memberikan nomernya pada bu Asih.

“Mulai besok, aku tak bisa menitipkan kue lagi. Apa kata ibu nanti ya?” dengan terbata-bata kuceritakan hal ini pada Nita. Sebenarnya hatiku bergemuruh menahan sesak dan hampir saja air mataku jatuh. Tapi tidak, aku tak boleh lemah dihadapan temanku. Aku ingat kata ibu, hanya Allah yang bisa mengasihaniku.

“Bagaimana bisa begitu, bukankah sudah tiga minggu kau menitipkan kue dan selalu habis terjual? Aku yakin kue buatan ibumu itu enak dan banyak anak-anak menyukainya “  Anita temanku yang baik hati ini seakan tidak terima dan memandangku heran mengapa ini terjadi.

     Selang beberapa menit tampak sepeda motor  berwarna biru muda berhenti di depan sekolah kami. Seorang wanita membuka penutup helmnya dan tersenyum.

“ Itu mamaku, aku pulang dulu ya Nun, besok ketemu lagi ya . Daa daa”

     Aku hanya tersenyum melihatnya berlari, dan tak lama diapun hilang bersama Ibunya yang ramah dan ayu itu. Kembali lagi aku memikirkan kue Ibu, nampaknya Nita dan mamanya cukup mengalihkan pikiranku kedunianya yang begitu bahagia. Ibu, bagaimana nasib kue-kue Ibu nanti. Yang lebih penting lagi uang komisi kue yang aku titipkan ini sudah kujatah untuk menabung. Sedikit demi sedikit kukumpulkan untuk membayar jam tambahan kelas karena aku sekarang kelas enam SD.

   

up